Tampilkan postingan dengan label WEB-DL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label WEB-DL. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Juli 2016

WA'ALAIKUMSALAM PARIS (2016)

Genre: Drama, Komedi 
Sutradara: Benni Setiawan
Penulis: Benni Setiawan
Produser: Yoen K, Ody Mulya Hidayat
Pemain: Velove Vexia (as Itje), Nino Fernandez (as Clement), Tanta Ginting (as Dadang), Borisbokir (as Yayat), LuthyaSury (as Ine), Joe Project (as Pak Engkos), Lydia Kandau (as Bu Engkos)
Produksi: Maxima Pictures



Sudahkah tidak ada harapan bagi film religi tanah air? Bermodalkan nama Ifa Isfansyah dan twist pada genre tersebut, harapan sempat muncul untuk Pesantren Impian sebelum akhirnya berujung kekecewaan mendalam. Talak 3 cukup menghibur tapi lebih dekat sebagai satir sosial daripada sepenuhnya sajian religi. Lalu muncul trailer menjanjikan dari Wa'alaikumsalam Paris berkat tone komedik serta chemistry menjanjikan Velove Vexia da Nino Fernandez. Ditambah lagi keberadaan Benni Setiawan yang tahun lalu menghasilkan Toba Dreams (one of the best Indonesian movie last year) sebagai sutradara sekaligus penulis naskah. Berhasilkah film ini mengembalikan kepercayaan saya terhadap genre religi?



Itje (Velove Vexia), gadis desa asal Bojong baru saja menikah dengan pria asal Prancis bernama Clement (Nino Fernandez). Bagi Itje, menikahi Clement dapat mewujudkan impiannya menjalani hidup secara lebih baik di Paris. Kedua orang tuanya pun selalu membangga-banggakan "keberhasilan" puteri sulung mereka menikahi bule kaya raya dan tinggal di luar negeri. Namun setibanya di Prancis, angan-angan Itje untuk memandangi keindahan Paris lalu belanja barang-barang mewah seketika pupus tatkala mendapati bahwa Clement hanya seorang petani anggur di desa terpencil. Pernikahan mereka diuji tatkala Itje terus mengutarakan kekecewaannya sedangkan Clement -sebagai mualaf-  berusaha keras menjadi suami baik sesuai ajaran Islam.



Selain menggurui, salah satu penyakit film religi Indonesia adalah karakter yang terlampau sempurna. Memang begitu idealnya manusia menurut agama, tapi sebagai karakter film, bentuk demikian membuat karakternya menjadi asing, tidak relatable dengan penonton. Ujungnya, pesan berupa "be a better person" sulit diterima. Wa'alaikumsalam Paris menggunakann jalan lebih universal guna menuturkan pesannya, dan tiada ada hal lebih universal selain cinta. Bisa dibilang Clement adalah "suami idaman". Bukan sekedar tampan, ia juga baik serta amat penyabar. Terlalu sempurna? Mungkin. Tapi ada satu pembeda antara Clement dengan tipikal karakter di atas, yakni motivasi.



Clement ingin menjadi lebih baik karena cintanya akan Itje. Walau pada akhirnya Tuhan jadi alasan utama, itu merupakan hasil dari proses, tapi awalnya semua didasari oleh rasa cinta. Berkat itu, saya dan mungkin penonton lain yang pernah merasa ingin berubah ke arah lebih baik demi sosok tercinta bisa merasakan keterikatan juga memahami motivasi Clement. Hal ini harus dicontoh oleh film religi lain, bahwa untuk menyebarkan kebaikan tidak melulu harus kaku atau straight to the point. Menggunakan sarana yang lebih mudah diterima orang banyak seperti romansa berbalut kejenakaan justru memperlancar penyampaian pesan. Sampai konklusi, pesan film ini sederhana saja: jadilah suami/istri yang baik. Definisi "baik" pun berhenti sampai tataran saling mencintai dan menerima, bukan menjalankan sunah, pemakaian hijab, dan sebagainya.



Membicarakan cinta tentu tak lepas dari jalinan chemistry Velove Vexia dan Nino Fernandez. Keduanya saling melengkapi, menyempurnakan kombinasi menarik antara dua sosok bertolak belakang. Ada kekuatan dalam tiap interaksi, entah saat momen dramatik sehinga terasa menyentuh atau komedi pemancing gelak tawa. Padahal sejatinya naskah karya Benni Setiawan kurang cermat menggali hubungan Itje dan Clement, materi humor pun tidak seberapa menggigit. Namun kedua pemain sanggup memaksimalkan tiap kesempatan, memunculkan romantika manis sekaligus hangat guna memikat hati saya. Secara individu keduanya sama memuaskannya. Nino tidak berlebihan memainkan sosok pria penyabar, bahkan sanggup menyuntikka takaran sesuai saat momen drama. Sedangkan Velove membuat Itje tetap likeable, senantiasa menggelitik meski menghabiskan mayoritas waktu merengek berteriak "Kang Emen!"



Kelemahan memang terletak pada naskah dan perjalanan alur. Begitu minim pendalaman juga seringkali terburu-buru. Lihat saja adegan pembuka sewaktu tanpa perkenalan apapun sudah bergerak cepat menuju pernikahan Clement dan Itje. Padahal penonton belum tahu siapa mereka atau mengapa keduanya memutuskan menikah. Jika bukan karena dua cast utama, paparan romansa berpotensi hambar karena hal tersebut. Beberapa poin cerita pun terasa dipaksaka hadir supaya alur bisa bergerak menuju titik berikutnya -paling kentara di ending yang out-of-nowhere. Selain alur, saya juga terganggu saat gambar film ini sering "pecah" khususnya di adegan outdoor. Ketika film lain dengan setting luar negeri berlomba menghadirkan keindahan visual, kekurangan satu ini tentu amat disayangkan. Memang masih banyak kekurangan dimiliki, namun berkaca pada mengenaskannya kualitas perfilman religi Indonesia, Wa'alaikumsalam Paris bak hujan sehari pasca kemarau berkepanjangan.

TRAILER

DOWNLOAD
Kualitas : WEB-DL
Source : Thainesia
File : MP4


720p
Openload : http://sh.st/HZp1c
Uptoboxhttp://sh.st/HZp8U
ClicknUpload : http://sh.st/HZat2
Uploading.sitehttp://sh.st/HZssT



360p
Openload : http://sh.st/HZsRO
Upfile http://sh.st/HZsB8
Uppithttp://sh.st/HZduu
Exosharehttp://sh.st/HZdjs


Subtitle : -


BULAN TERBELAH DI LANGIT AMERIKA (2015)

Genre : Drama
Sutradara : Rizal Mantovani
Produser : Ody Mulya Hidayat
Penulis Naskah : Hanum Salsabiela Rais
Produksi  : Maxima Pictures
Tanggal Rilis : Akhir Tahun 2015/ TBA 2015
Durasi : 92 menit


Pemeran 
Setelah mendapat kiriman email video seorang gadis berjudul “Do you know my dad?”, Hanum (Acha Septriasa) seorang jurnalis muslim dan bekerja di sebuah kantor berita di Wina, diberi tugas untuk menulis artikel provokatif oleh bos redaksi, berjudul “Apakah dunia lebih baik tanpa Islam?”.

Untuk menjawabnya, Hanum harus bertemu dengan korban tragedi 9/11 di New York, Azima Hussein (Rianti Cartwright), seorang mualaf yang bekerja di sebuah museum, dan anaknya, Sarah Hussein.

Pada saat yang bersamaan, Rangga (Abimana Aryasatya) suaminya, juga ditugasi oleh Profesornya untuk mewawancara seorang milyuner dan philantropi Amerika bernama Phillipus Brown, demi melengkapi persyaratan S3 nya. Brown dikenal eksentrik, misterius, dan tidak mudah berbicara dengan media.

Rangga diminta untuk menemui Stefan (Nino Fernandez) dan kekasihnya Jasmine (Hannah Al Rasyid) yang berada di New York yang telah mengatur pertemuan eksklusif dengan Brown. Malang tidak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih, tugas mereka berantakan ketika sebuah demosntrasi besar berakhir ricuh dan membahayakan keselamatan mereka.
Bulan Terbelah di Langit Amerika menawarkan banyak cerita yang dari pasangan-pasangan di film ini. Pasangan kekasih, suami istri, ibu anak, dan ayah anak. Untuk mendiskripsikan kisah masing-masing pasangan tentu dibutuhkan waktu cukup banyak. Setidaknya dibutuhkan separuh durasi film ini untuk memperkenalkan karakter dan kisahnya masing-masing.

Akting Acha dan Abimana kembali menyakinkan dengan alur yang berbeda dari prekuelnya, 99 Cahaya di Langit Eropa. Jika sebelumnya mereka menjadi pasangan yang kompak dan saling membantu, kali ini perselisihan demi perselisihan membuat mereka terbelah. Tapi konflik utama film ini bukanlah cinta Rangga dan Hanum.

Cerita 9/11 melibatkan banyak orang yang menjadi korban, keluarga korban, dan simpati dari masyarakat di Amerika. Kisah film ini merangkum kemarahan pada Islam dengan berbagai sudut pandang. Sebagai negara yang berpenduduk muslim terbanyak di dunia, Maxima Pictures secara cerdas menyentil perasaan muslim di Amerika yang mungkin akan menjadi emosional jika Anda menonton film ini.

Musik juga diperhatikan dengan baik untuk menggiring emosi penonton. Menjelang akhir, film ini menampilkan puncak emosi yang bisa membuat penonton ikut merasakan perasaan masing-masing pemain. Sayangnya semua kebaikan film ini diletakan hampir di akhir film, jadi Anda harus menahan kebosanan untuk mencapai akhir cerita film ini.

Jika Anda bukan penggemar film religi, mungkin film ini akan terasa berlebihan sehingga terasa membosankan. Apalagi adegan dalam ruangan lebih mendominasi daripada adegan di luar ruangan. Landscape New York kurang terekspos maksimal.
TRAILER
DOWNLOAD
Kualitas : WEB-DL
Source : Thainesia
File : MP4



720p
Openload : http://sh.st/HZtpe
Uptoboxhttp://sh.st/HZtQ2
ClicknUpload : http://sh.st/HZtFi
Uploading.sitehttp://sh.st/HZyL7



360p
Openload : http://sh.st/HZtkX
Upfile http://sh.st/HZt4T
Uppithttp://sh.st/HZyoh
Exosharehttp://sh.st/HZygD


Subtitle : -

COMIC 8 : CASINO KINGS PART 2 (2016)

Genre : Action, Comedy
Produser : Hb Naveen, Frederica
Sutradara : Anggy Umbara
Penulis Skenario : Fajar Umbara

Tanggal Tayang : 3 Maret 2016
Rumah Produksi : Falcon Pictures
MPAA : Remaja (R 13+)
Negara : Indonesia

Dalam satu tahun belakangan ini, mungkin tidak ada film Indonesia yang dapat diklaim sebagai yang terbesar selain Comic 8: Casino Kings. Sejak awal produksi, sekuel dari film laga komedi sukses Comic 8 (2014) ini telah mengajak puluhan orang terkenal—sebagian besar adalah stand up comedian yang tengah naik daun di Indonesia, ditambah dengan desain produksi serba spektakuler dan penggunaan teknologi visual effects.
 Singkatnya, ini adalah film mahal, dengan tujuan menjangkau sebanyak mungkin penonton, ciri yang biasanya muncul dalam film-film blockbuster Hollywood. Namun, pada akhirnya penonton harus menyaksikan film ini dengan cara dicicil dalam dua bagian, lantaran ceritanya yang terbilang panjang sekalipun sebenarnya sederhana.

Casino Kings Part 1 yang rilis Juli 2015 lalu memulai cerita tak lama setelah akhir dari cerita Comic 8 pertama, yaitu penyelidikan seorang agen Interpol, Cynthia (Prisia Nasution) terhadap delapan orang yang dicurigai menjadi pelaku perampokan dan penyanderaan Bank INI. Tentu saja, sebenarnya sudah dijelaskan kepada penonton di akhir film pertama bahwa kedelapan orang yang dimaksud adalah agen rahasia pimpinan Indro (Indro Warkop) yang berupaya meringkus seorang dokter jiwa jahat, Pandji (Pandji Pragiwaksono). Hanya saja, berhubung misi mereka bersifat rahasia, para agen ini akan selalu menghilang tanpa jejak.


Para agen yang terdiri dari Arie (Arie Kriting), Babe (Babe Cabiita), Bintang (Bintang Timur), Ernest (Ernest Prakasa), Fico (Fico Fachriza), Kemal (Kemal Palevi), Mongol (Mongol Stres), dan Ge (Ge Pamungkas) kali ini diutus untuk meringkus raja judi terbesar di Asia Tenggara yang dijuluki The King. Mereka kemudian menyamar dan berbaur dengan para stand up comedian, sampai akhirnya berhasil mendapat undangan khusus ke pulau judi rahasia, dan bertemu langsung dengan The King (Sophia Latjuba).

Namun, ternyata The King bersekongkol dengan Dokter Pandji yang hendak membalas dendam, sehingga para agen ini dijebloskan ke serangkaian permainan maut rancangan The King, dan keselamatan mereka jadi bahan taruhan judi online internasional. Sementara itu, Cynthia masih terus berupaya mengungkap identitas kedelapan agen ini, yang justru menyeretnya juga ke pulau milik The King. Bagian cerita inilah yang hendak diselesaikan dalam Casino Kings Part 2: apakah para agen Comic 8 dapat menyesaikan misinya, dan apakah kali ini mereka dapat kembali lolos dari pengejaran pihak berwajib.


Casino Kings Part 2 adalah sebuah klimaks panjang dari keseluruhan ceritanya. Inti utama ceritanya sudah dijabarkan di Casino Kings Part 1, sehingga di paruh kedua penonton tinggal menanti rentetan aksi dari para karakternya dalam mencapai tujuan masing-masing, ditambah pengungkapan satu, dua detail baru, seperti siapa sebenarnya The King.


Mungkin itu sebabnya pula penuturan Casino Kings Part 2 adalah yang paling linear dan straightforward dibandingkan dua film sebelumnya—apalagi sebagian besar karakternya yang banyak itu sudah "tereliminasi" sehingga tersisa sekitar sepertiganya. Dalam gambaran besarnya, pokok dari film ini adalah aksi tembak-tembakan, kejar-kejaran, pertarungan, serta selipan-selipan komedi di antaranya, semua atas nama entertainment.

Ketika Casino Kings Part 2 hadir dengan memaksimalkan unsur hiburannya, sulit dihindari untuk tidak menilai film ini dari segi teknisnya. Di satu sisi, perlu diapresiasi bahwa di film ini masih bisa menampilkan rancangan adegan laga digabung dengan komedi yang masih memberi efek menghibur. Ketika cerita bergulir semakin absurd dan nyeleneh, semuanya masih sejalan dengan corak keseluruhan film yang memang berniat gila-gilaan.

Di sisi lain, karena sebagian besar adegan-adegan tersebut menggunakan efek digital, harus diakui bahwa beberapa kali adegan-adegan yang menghibur itu terganggu oleh ketidaksiapan teknologi dalam memoles film dalam porsi sebanyak itu. Kalau mau dibandingkan, Casino Kings Part 1 lebih bisa menghadirkan gambar dan efek digital yang lebih nyaman dilihat. Pada akhirnya, bagian yang ditampilkan maksimal adalah adegan-adegan seperti pertemuan para agen Comic 8 dengan para petarung senior atau duel Cynthia dan Bella (Hannah Al Rashid), yang justru tak menggunakan banyak sentuhan efek digital.


Satu lagi yang cukup disayangkan adalah film ini seperti kewalahan dalam menampilkan adegan-adegan laganya dalam porsi seimbang. Dalam satu momen di pertengahan, film ini harus menampilkan empat pertarungan serentak di empat tempat berbeda, yang kemudian diputuskan untuk ditampilkan secara selang-seling. Hanya saja, trik ini justru membuat intensitas setiap pertarungan jadi tanggung: ketika mau mencapai bagian paling seru, langsung pindah ke tempat lain. Inilah salah satu hal yang membuat ritme Casino Kings Part 2 tampak tidak se-exciting film-film sebelumnya.

Menyaksikan Comic 8: Casino Kings, baik Part 1 dan Part 2 akhirnya menimbulkan sebuah pengandaian, bagaimana jadinya jika dibuat satu film saja, dan tidak harus dirilis terlalu cepat. Cukup nyata terlihat di Casino Kings Part 1 bahwa banyak bagian yang dapat dihilangkan sehingga dapat merampingkan durasi cerita ini secara keseluruhan, bahkan mungkin tak perlu dibelah dua—meski akhirnya berisiko menghilangkan sejumlah karakter yang dimainkan orang-orang terkenal juga.

Dan, bila diberi waktu yang lebih lama, mungkin polesan teknis film ini bisa lebih maksimal. Toh, terbukti dari penjualan tiket Casino Kings Part 2 yang bombastis di bioskop-bioskop, momentum terhadap film ini belum luntur sekalipun jaraknya sudah lebih dari dua tahun sejak film pertamanya, bahwa para penggemar film ini—atau fans para pemainnya—masih tetap antusias.

Namun, terlepas dari itu, Casino Kings Part 2 membuktikan bahwa Indonesia punya potensi dalam membuat film-film blockbuster-nya sendiri. Tentu ada banyak faktor dalam menentukan kualitas maupun kesuksesan sebuah film—Casino Kings Part 2 sendiri diketahui sangat gencar dalam berpromosi.


Tetapi, kenekatan sutradara Anggy Umbara dan rumah produksi Falcon Pictures membuat sebuah film skala besar penuh adegan fantastis dengan tujuan mengejar standar seperti blockbuster Hollywood, yang jadi kesukaan sebagian besar penonton film Indonesia, paling tidak mencoba mendorong banyak pihak untuk melihat bahwa Indonesia bisa, jika diberi kesempatan.


SUMBER 


TRAILER

 

DOWNLOAD
Kualitas : WEB-DL
Source : Thainesia
File : MP4



720p
Openload : http://sh.st/HL8SR
Uptobox : http://sh.st/HL8La
ClicknUpload : http://sh.st/HL9q0
Uploading.sitehttp://sh.st/HL9sv



360p
Openload : http://sh.st/HL943
Upfile http://sh.st/HZ0pe
Uppithttp://sh.st/HL9nH
Exosharehttp://sh.st/HL9GL


Subtitle : -










Jumat, 08 Juli 2016

WHAT THEY DON'T TALK ABOUT WHEN THEY TALK ABOUT LOVE (2013)

Tanggal rilis awal: 19 Januari 2013
Pemeran  
“Burung camar…tinggi melayang. Bersahutan…di balik awan. Membawa angan-angan ku jauh meniti buih. Lalu hilang larut di lautan”, tembang “Burung Camar” dari Vina Panduwinata seolah menyambut langkah saya, ketika memasuki Sekolah Luar Biasa (SLB) yang kali ini jadi latar belakang film terbaru Mouly Surya (Fiksi.). Dari sebuah rumah susun yang punya kisah di tiap deret pintunya, yang lorong-lorongnya seolah menyampaikan cerita lewat gema. Mouly di “What They Don’t Talk About When They Talk About Love”, mengajak saya dari rumah susun tersebut untuk melompat, yah kali ini terdampar di sebuah SLB, dengan penghuni-penghuninya yang juga memiliki cerita yang luar biasa…soal cinta. Dari judul yang sependek “Fiksi.”, judul “What They Don’t Talk About When They Talk About Love” (selanjutnya akan saya sebut “Don’t Talk Love”) seperti cara Mouly untuk bilang “gw mao bikin yang beda dari film sebelumnya”, dan itu memang dibuktikan lewat “Don’t Talk Love” yang punya cara bertutur berbeda. Dipenuhi bahasa visual yang lebih mendominasi layar ketimbang bercerita melalui dialog-dialog, untuk mengerti “Don’t Talk Love” memang perlu usaha tersendiri. Tak semudah mencerna “Fiksi.” yang dari awal di-treatment dengan narasi terurut jelas, di “Don’t Talk Love”, Mouly seakan menantang saya untuk menangkap maksud dari tiap gambar yang terikat (untungnya) pada alur yang tidak lari-larian. Jadi saya bisa leluasa untuk mengerti tanpa dipaksa berkejar-kejaran dengan waktu.
Well, seperti juga “Fiksi.”, Mouly dengan mudah mengajak ke dalam dunia barunya, saya seakan diajak main berputar-putar mengelilingi sekolah, sambil diajak kenalan dengan penghuninya, sesekali ikut juga mengintip cerita mereka. “Don’t Talk Love” tetap asyik untuk ditelusuri, tak perlu kemudian jadi takut menonton karena status film festivalnya, tetek bengek arthouse, kesampingkan momok menakutkannya, yah “Don’t Talk Love” tetaplah film yang menghibur, dengan caranya yang unik, kadang dibarengi segala ke-absurd-nya. Film yang tak hanya menyuapi saya dengan gambar simbolik nan puitis, tapi meminta baik-baik perasaan untuk diajak mengenal sebuah arti cinta, dari sudut pandang mereka yang punya kekurangan. Di SLB ini, kemudian saya diperkenalkan dengan Diana (Karina Salim), pengidap low vision, yang diam-diam menyukai Andhika (Anggun Priambodo). Dengan segala cara, Diana coba menarik perhatian Andhika yang tidak bisa melihat itu. Lain lagi dengan cerita Fitri (Ayushita Nugraha), yang juga tuna netra, ia ditaksir Edo (Nicholas Saputra), anak pemilik warung jajanan di sekolah. Memanfaatkan mitos hantu dokter, Edo yang tuli dan bisu mencoba mendekati Fitri, yang sebenarnya sudah punya pacar. Bagaimana nantinya Diana yang pemalu bisa merebut hati Andhika, dan seperti apa Edo dengan dandanan berandalan punk-nya akhirnya bisa menyampaikan isi hatinya pada Fitri, tidak saja menjadikan “Don’t Talk Love” menarik untuk disimak, tapi juga memberi banyak bekal untuk disikapi oleh hati penonton. “Don’t Talk Love” memang bukan saja film untuk dilihat, melainkan juga untuk dirasakan…rasakan cinta.

Walau fokus “Don’t Talk Love” mengarah pada mereka yang punya kekurangan, tapi bukan berarti Mouly berniat untuk mengeksploitasi seenaknya disabilitas, menjadi sebuah konsumsi hiburan, apalagi mengemis simpati penonton lewat karakter Fitri dan kawan-kawan. “Don’t Talk Love” justru ingin menampilkan mereka terlihat yah setara dengan kita yang masih “lengkap”. Sekali lagi ini bukan film yang mengekspos kekurangan sebagai bahan meminta belas kasihan penonton, bukan film seperti itu, yang mengandalkan cerita pada penderitaan berkepanjangan karakternya. Mereka tak sedikitpun diperlihatkan mengeluh dengan keadaan, karena memang bukan itu yang ingin dibicarakan oleh Mouly. Tapi soal Fitri dan kawan-kawan yang juga bisa jatuh cinta, ketika salah-satu indera mereka meredup, indera lain justru bercahaya lebih terang…lebih peka, bahkan dari kita yang normal. Cinta itu tidak buta ketika “Don’t Talk Love” membicarakan soal cinta, lewat hatinya, Diana dan Andhika masih bisa saling tatap. Walau dibatasi kekurangan, Edo dan Fitri masih bisa saling curhat. Well itulah cinta, selalu mampu menemukan caranya untuk berbicara, walau tanpa kata-kata yang bersuara lewat mulut. “Don’t Talk Love” secara sederhana, mampu menyuarakan sebuah arti cinta dengan begitu indah, berdampingan dengan bahasa visual-nya yang juga mampu menterjemahkan rasa jatuh cinta, dengan serangkaian gambar-gambar nan puitis. Baik itu secara halus dan malu-malu diwakili oleh Diana, atau yang rada-rada nakal diwakili oleh hubungan Edo dan Fitri, film ini cemerlang dalam mempresentasikan keduanya, yang sama-sama bagian dari keindahan cinta.

Didukung oleh akting yang luar biasa dari para pemainnya, termasuk Karina Salim, penonton tidak saja dituntun mengenal siapa Diana, Fitri dan Edo, tapi juga terlibat untuk jauh menyelam ke dalam perasaan masing-masing karakternya, walau kadang harus menebas batas-batas ke-absurd-an yang menyelimuti mereka. Tanpa dibebani untuk menjelaskan, Mouly dengan bebas bermain-main, saya merasakan keasyikan tersebut dalam tiap scene di “Don’t Talk Love”. Kita sebagai penonton dibiarkan jadi pintar, menangkap setiap makna dan pesannya sendiri tanpa harus disuapi. “Don’t Talk Love” saya akui tidak se-clear “Fiksi.” dalam menyajikan ceritanya, penuh tanda tanya disana-sini, dan saya pun perlu waktu untuk mencerna beberapa bagian yang dirasa kurang jelas. Namun itu tidak membuat saya jadi kurang menikmati, toh film ini juga memberikan jawaban yang selama ini saya cari, diantara pernak-pernik soal cinta yang lalu-lalang kesana-kemari. Walaupun berbeda dengan film sebelumnya, saya masih melihat style “Fiksi.” yang ikut-ikutan nyangkut di “Don’t Talk Love”, yah tersamar mulus diantara eksperimen-eksperimen barunya. Beberapa gambar jelas mengingatkan saya pada “Fiksi.”, termasuk ketika Mouly menyajikan adegan-adegan “intim” dengan blak-blakan sekaligus terbingkai manis. Ditemani scoring yang masih ala-ala “Fiksi.”, film ini mengalir dengan kesederhanaannya, beberapa terlukis jelas, ada juga yang tak terjelaskan, beberapa absurd, tapi tetap membuat saya tersenyum. Bukankah seperti itulah cinta, tidak semua bisa dijelaskan, tapi apa yang dirasakan di dalam sini. “Don’t Talk Love” adalah film yang ingin berbagi rasa tentang cinta, rasanya tetaplah sama, indah, hanya cara mengutarakannya saja yang unik.
TRAILER
DOWNLOAD
Kualitas : WEB-DL
Source : Thainesia
File : MP4


Openload : http://sh.st/HFVKX
Uptoboxhttp://sh.st/HFVDQ
ClicknUpload : http://sh.st/HFVUf
Uploading.site : http://sh.st/HFVuq
Go4up : http://sh.st/HFVeo


Subtitle : -

KEANU (2016)

Rating: R (for violence, language throughout, drug use and sexuality/nudity)
Genre: Action & Adventure, Comedy
Directed By:
Written By: Alex Rubens, Jordan Peele
In Theaters:
Box Office: $20.0M
Runtime:

Warner Bros. Pictures - Official Site 

Cast

Bercerita tentang  kucing imut yang menjadi rebutan orang - orang untuk menjadikannya peliharaan pribadi di rumah . Akhirnya Keegan - Michael Key dan Jordan Peele adalah orang yang beruntung memelihara KEANU yang imut tersebut . Mereka akan membawa Keanu ketempat tinggal mereka yang jauh dari keramaian kota . Mereka menjadikan Keanu sebagai peliharaan dan menyayangi setulus hati dan sering mengajak nya bermain bersama. Lebih dari itu mereka bahkan sering mengangap Keanu sebagai saudara terbaik mereka .

Dan pada suatu hari Keanu di culik oleh sekelompok geng pembunuh  .Keegan-Michael Key dan Jordan Peele terus berusaha mencari dan menemukan kembali Keanu yang di culik. Namun sial nya Geng tersebut juga menginginkan Keanu untuk dia asuh . Bukan hanya itu , ternyata mereka juga menemukan geng yang terus mengincar Keanu dan mengambil hak asuh nya.

Nah , pertempuran antar geng untuk merebutkan Keanu dimulai . Akankah Keegan-Michael Key dan Jordan Peele bias mengambil Keanu kembali. Bagaimana Geng Jahat tersebut berusaha merebut Keanu dari gerombolan geng lain ?


TRAILER





DOWNLOAD
Kualitas : WEB-DL
Source : 720p.WEB-DL.EVO  
File : MKV & MP4



720p
Openload : http://sh.st/HFUKN
Uptoboxhttp://sh.st/HFUun
ClicknUpload : http://sh.st/HFUkS
Uploading.sitehttp://sh.st/HFUvC



360p
Openload : http://sh.st/HFOOm
Upfile http://sh.st/HFORq
Uppithttp://sh.st/HFI6l
Go4up : http://sh.st/HFOrU


Subtitle : Subscene
===========================================================
Kualitas : HC WEBRIP
Source : ShAaNiG
Resolusi : 720p & 360p
File : MKV & MP4


720p MKV
Openload : http://sh.st/AW0JZ
Usersfiles : http://sh.st/AWqjl
ClicknUpload : http://sh.st/AW03j
Upload.mobi : http://sh.st/AW08Q


360p MP4
Openload : http://sh.st/AW0C4
Solidfiles : http://sh.st/AWqaN

Subtitle : Subscene

DEAR ELEANOR (2016)


Rating: PG13
Genre: Action & Adventure , Comedy
Directed By: Kevin Connolly
Written By: Amy Garcia , Cecilia Contreras
On DVD:
Runtime:
Studio: Nine Nights

Starring 
Isabelle FuhrmanLiana LiberatoJessica AlbaJosh LucasLuke WilsonJoel CourtneyIone SkyePatrick Schwarzenegger

In 1962, in the shadow of the Cuban Missile Crisis, two teenage girls (Isabelle Fuhrman and Liana Liberato) break out of their normal life, jump in the car and embark on a trip across the country in search of the former First Lady of the United States, Eleanor Roosevelt. Their Thelma & Louise cross-country adventure is a mix of hilarious joy ride and an empowering personal odyssey that not only tests their friendship for the first time but also lands the girls in jail.


 TRAILER


DOWNLOAD
Kualitas : WEB-DL
Source : ShAaNiG
File : MKV & MP4




720p
Openload : http://sh.st/HO3Mw
Uptoboxhttp://sh.st/HO5ZZ
ClicknUpload : http://sh.st/HO6f9
Uploading.sitehttp://sh.st/HO6Xz



360p
Openload : http://sh.st/HO49g
Upfile http://sh.st/HO7gR
Uppithttp://sh.st/HO72A
Go4up : http://sh.st/HO8Wg


Subtitle : Subscene